parsilan maulana

SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA

Studi Banding DPR ke Negara Gagal Pramuka Terlalu Dicocok-cocokkan

( DetikNews) Jakarta – Panja Pramuka Komisi X DPR memang unik, mereka menabrak pakem dengan memilih mencari ilmu ke negara gagal Pramuka yaitu Afrika Selatan. Tak ayal hal ini melahirkan tudingan kegiatan ini hanya dicari-cari.

“Ini tidak jelas urgensinya, alasan studi banding ke Afrika terlalu yang dicari-cari, terlalu dicocok-cocokan,” tuding pengamat kebijakan publik Andrinof Chaniago saat berbincang dengan detikcom, Rabu (15/9/2010).

Dia menilai studi banding itu aneh. “Banyak yang aneh dan janggal dalam studi banding kunjungan kerja DPR. Contohnya studi banding ke Afrika Selatan yang Pramukanya gagal. Studi banding hanya pembungkus saja dari bagi-bagi jatah ke luar negeri” katanya.

Bila anggota DPR yang melakukan studi banding ke negeri gagal kembali ke Indonesia, hasil kajian akan sia-sia. Karena DPR dinilai tidak bisa mengidentifikasi tujuan negara target studi banding.

“Buat apa ditagih hasil kajiannya kalau berangkat ke tempat yang gagal, sia-sia saja,” tuturnya.

Seharusnya, imbuh Andrinof, DPR melakukan studi literatur lebih dulu ke negara mana yang maju dalam kepramukaan. “Harusnya pelajari literatur dari internet, terus minta bantuan KBRI di negara yang teridentifikasi maju Pramukanya,” usulnya.

Akademisi UI ini berpendapat, memajukan Pramuka tidak cukup sekadar studi banding atau kunjungan kerja negara, tapi dengan melakukan studi literatur dan investigasi.

“Kalau hanya kunjungan negara pasti yang dikasih yang baik-baiknya saja, tidak mendalam,” ujarnya.

Panja Pramuka terdiri dari 3 rombongan yang masing-masing berangkat ke Jepang, Korsel dan Afsel. Afsel dipilih karena Pramukanya kedodoran, sehingga Panja nantinya mampu mengindetifikasi mengapa Pramuka berhasil di Jepang dan Korsel namun gagal di Afsel.

Kwarnas Pramuka: Kami Tak Bisa Komentar

Apakah Afsel Lebih Baik

(detikNews) Jakarta – Rencana Komisi X DPR yang akan melakukan studi banding Pramuka ke sejumlah negara mendapat banyak kritikan. Namun, Kwartir Nasional Pramuka menilai studi banding itu sah saja dilakukan. “Saya rasa itu sah-sah saja. Karena saya dengar kunjungan itu merupakan salah satu mekanisme kerja DPR. Jadi itu hak mereka untuk menggunakan mekanisme dalam pembuatan RUU tersebut,” kata Ketua Kwartir Nasional Pramuka Azrul Azwar saat dihubungi detikcom, Selasa (14/9/2010).

Namun Azrul enggan berkomentar mengenai pemilihan negara-negara yang menjadi negara tujuan studi banding itu. ” Kalau masalah Afsel dan negara-negara pilihan lain, saya tidak bisa komentar apa itu lebih baik atau tidak. Mereka pasti lebih tahu apa yang mereka butuhkan,” katanya.

Azrul menyatakan, UU pramuka merupakan sesuatu yang penting. Hal ini disebabkan dari 150 negara anggota  World Organization of the Scout Movement hanya beberapa negara, termasuk Indonesia, yang belum punya UU itu.

“Ya mungkin mereka butuh informasi dari luar untuk membahas RUU ini. Tidak masalah toh tidak semuanya dari mereka punya pengalaman di Pramuka. Sebab itulah mereka butuh informasi untuk pembuatan RUU Pramuka,” katanya.

Seberapa Penting RUU Pramuka

Selasa lalu, DPR mengirim tim ke Afrika Selatan belajar kepramukaan

VIVAnews – Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bertandang ke Afrika Selatan, Korea Selatan dan Jepang mulai Selasa lalu untuk mempelajari gerakan Pramuka. Para anggota Dewan ini adalah bagian dari Panitia Kerja Rancangan Undang-undang Kepramukaan.

Seberapa pentingkah RUU Kepramukaan ini segera diselesaikan?

Sejak Indonesia diproklamasikan, gerakan Pramuka belum pernah memiliki payung undang-undang. Menurut Darmanto Djojodibroto, seorang sesepuh Pramuka yang sekarang bermukim di Malaysia, kepramukaan di Indonesia bergerak berdasarkan Keputusan Presiden RI No.238 Tahun 1961 Tentang Gerakan Pramuka.

Keputusan Presiden ini menyatakan bahwa, (1) penyelenggaraan pendidikan kepanduan ditugaskan kepada Gerakan Pramuka; (2) pramuka adalah satu-satunya badan yang diperbolehkan menyelenggarakan pendidikan kepanduan, dengan Anggaran Dasar organisasi telah disediakan Pemerintah; (3) masyarakat dilarang membentuk perkumpulan yang menyerupai pramuka; (4) surat Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada 20 Mei 1961.

Keputusan Presiden ini membuat beberapa gerakan Pramuka seperti Hizbul Wathan yang bernaung di bawah Muhammadiyah harus melebur ke Gerakan Pramuka. Sejak 1961 itu, kepanduan-kepanduan partikelir terpaksa tiarap dan baru muncul kembali ketika Reformasi bergulir pada 1998. Kepanduan pun kembali marak.

DPR periode 2009-2014 kemudian menyikapi kondisi ini dengan membuat RUU memayunginya. Awalnya muncul perdebatan mengenai judul, “Gerakan Pramuka” atau “Kepramukaan.” Akhirnya, nama resmi yang dipakai adalah RUU Kepramukaan.

Nama ini menjadi penting karena berimplikasi pada pengakuan atas gerakan kepanduan lain selain Pramuka. “Dengan begini, Hizbul Wathan atau kepanduan lain diakui sebagai Pramuka,” kata seorang staf ahli anggota Panja RUU Pramuka kepada VIVAnews. “Namun posisi Kepanduan PKS masih diperdebatkan karena sejak awal dikonsep Pramuka itu tidak boleh partisan,” katanya.

Hal krusial lainnya, kepanduan juga tidak harus berbasis di sekolah seperti yang berlaku saat ini. “Nanti komunitas termasuk pasar atau perumahan, bisa membentuk gugus pramuka sendiri,” kata staf salah seorang anggota DPR yang sekarang ke Afrika Selatan itu.

Sampai para anggota DPR dari Komisi X itu bertolak ke Afrika Selatan dan dua negara lain, beberapa poin dalam RUU belum selesai dibahas. Poin tersebut antara lain mengenai pendanaan Pramuka.

Soal pendanaan ini penting karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri juga melansir masalah ini dalam upacara peringatan Hari Pramuka ke 49 di Cibubur, Sabtu 14 Agustus 2010 lalu. Presiden meminta pejabat terkait memberikan dukungan dan bantuan kepada Gerakan Pramuka. Bantuan itu termasuk pendanaan Gerakan Pramuka di wilayah masing-masing.

“Kepada menteri terkait saya instruksikan terus memberikan perhatian revitalisasi Gerakan Pramuka. Kepada para gubernur, bupati, walikota agar terus memberikan dukungannya,” kata Yudhoyono.

Dan pesan terpenting Presiden pada hari itu adalah, perlu ada revitalisasi Gerakan Pramuka. Dia berharap Gerakan Pramuka menjadi motor penggerak di abad 21. Yudhoyono meminta agar Pramuka memperkuat organisasi dan manajemen kepramukaan dengan tepat.

Apakah RUU Kepramukaan bisa menjawab permintaan Presiden?

Reposisi & Revitalisasi Pramuka

KARENA asas kesukarelaan berubah menjadi kewajiban tanpa disertai tambahan keterampilan yang memadai, maka Gerakan Pramuka menjadi mandeg. Secara kuantitas, Pramuka pernah mengalami lonjakan yang dahsyat, namun bersama melonjaknya jumlah anggota tersebut, justru kualitasnya semakin menurun, menukik masuk ke lorong hitam.

Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka serta Kode Etiknya tak terbantahkan, bahwa Gerakan Pramuka mempunyai tujuan yang sangat mulia dalam membina generasi muda Indonesia yang mencintai negaranya, mencintai bangsanya.

Namun yang terjadi sejak kejar target sejuta anggota, praktik gerakan ini menjadi berubah. Di sekolah-sekolah, Gerakan Pramuka berubah menjadi sekadar gerakan memakai baju Pramuka setiap hari Jumat atau Sabtu. Mereka hanya memakai baju Pramuka yang diwajibkan untuk dibeli dari sekolah. Setelah itu tanpa ada upaya menambah wawasan dan keterampilan kepramukaan. Karena memakai baju Pramuka tanpa ujian dan keterampilan, maka kebanggaan sebagai anggota Pramuka menjadi luntur, bahkan menghilang.

Kemandekan gerakan Pramuka yang cukup lama itu sesungguhnya tidak menyurutkan semangat anak-anak muda untuk menjadi generasi muda yang dinamis sebagai pemandu. Karena Gerakan Pramuka menjadi tidak memiliki tantangan dan keterampilan, maka gerakan yang bertujuan mulia dalam membuna generasi muda ini menjadi kehilangan fokus gerakan di benak anak muda. Akibatnya Gerakan Pramuka tidak menjadi lagi denyut jantung anak muda. Ternyata brand image Gerakan Pramuka yang melemah itu tidak menyurutkan anak muda dalam beraktivitas yang bersifat kepramukaan. Mereka tetap dinamis dan kreatif dan mencari atau membentuk wadah-wadah baru yang dapat menyalurkan semangat jiwa mudanya secara positif.

Karena kualitas pembinaan di sanggar-sanggar Pramuka terus merosot, maka keberadaan gerakan ini menjadi sekadar formalitas, sekadar menjadi pelengkap struktur di sekolah-sekolah. Karena kepala sekolah biasanya otomatis sebagai majelis pembina gugus depan.

Kemandekan Pramuka yang sangat lama itu telah menyebabkan gerakan ini tidak menyadari telah kehilangan keterampilan dasarnya. Keterampilan-keterampilan dasar Gerakan Pramuka dimanfaatkan oleh aktivitas anak muda lainnya, yang dirasakan dapat memberikan jawaban akan hasrat mudanya. Keterampilan kepramukaan seperti Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) secara khusus telah dimanfaatkan oleh anggota Palang Merah Remaja (PMR), baris-berbaris dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra), pengetahuan kepolisian dimanfaatkan oleh anggota Polisi Sekolah, keterampilan hidup di alam bebas telah dengan baik dimanfaatkan oleh siswa pencinta alam. Inilah yang disebut misteri kehilangan. Para pembina, instruktur dan anggota Gerakan Pramuka tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan keterampilan dasarnya.

Reposisi dan revitalisasi

Gerakan Pramuka yang tanpa keterampilan dengan brand image yang lemah, perlu segera diselamatkan dengan jalan sesegera mungkin mengadakan reposisi dan revitalisasi. Reposisi bisa berarti: 1. Penempatan kembali ke posisi semula, 2. Penataan kembali posisi yang ada, dan 3. Penempatan ke posisi yang berbeda.

Karena gerakan ini sudah kehilangan fokus pembinaannya sehingga ditinggalkan para kawula muda, maka kembali ke asas dan prinsip dasar gerakan semula merupakan langkah awal yang patut dipertimbangkan.

Peningkatan kemampuan pembina dan instruktur perlu ditingkatkan secara mendasar dan mendalam. Kursus-kursus pembina dan instruktur itu semestinya bukan sekadar pembinaan mental di ruang-ruang kelas seperti yang sering dilakukan selama ini. Langkah awal ini adalah jalan agar para pembina dan instruktur di sanggar-sanggar mempunyai keterampilan dasar kepramukaan yang andal dan teruji, bukan sekadar bisa tepuk Pramuka atau menyanyi Di Sana senang di Sini Senang.

Karena kemahiran dan keterampilan dasar gerakan kepramukaan itu mutlak dikuasai oleh para pembina dan instruktur, maka para pembina dan instruktur itulah yang harus menjadi prioritas pembinaan dalam langkah pertama.

Langkah kedua bila pembina dan instruktur sudah mahir dalam keterampilan dasar Gerakan Pramuka, maka anak-anak muda itu dilatih keterampilan-keterampilan dasar kepramukaan tersebut.

Berlatih dan terus berlatih sehingga terampil dan mahir. Anggota Pramuka menjadi sempurna karena berlatih, paling tidak menjadi jauh lebih baik. Tanpa latihan yang baik, tidak akan ada keterampilan. Karena tak memiliki keterampilan, maka anggotanya tak akan mempunyai kebanggaan, malahan bisa malu berbaju Pramuka dengan tidak memiliki kemahiran.

Revitalisasi gerakan Pramuka merupakan langkah yang sangat bijaksana untuk bangkit dari keterpurukan ini. Revitalisasi adalah proses, cara, perbuatan menghidupkan atau menggiatan kembali. Salah satu cara untuk merevitalisasi Gerakan Pramuka agar kembali ke prinsip-prinsip dasarnya adalah dengan cara membuat strategi pembinaan yang lebih menyeluruh.

Gerakan Pramuka sebaiknya cukup hanya pada tingkatan SLTA. Adanya Gerakan Pramuka di perguruan tinggi, sesungguhnya karena ketidakpahaman akan prinsip dasar gerakan ini.

Ini contoh langkah yang bisa dipertimbangkan untuk dilakukan di sekolah-sekolah. Misalnya pada semester satu dan dua seluruh siswa dibekali keterampilan dasar Gerakan Pramuka, namun tidak dalam kemasan baju Pramuka, seperti: baris-berbaris, P3K, cara hidup di alam bebas, dan lain-lain sampai tingkat terampil dan mahir. Baru pada semester 3 mereka diperkenankan untuk memilih wadah mana yang akan diikutinya setelah mereka diberi keterampilan dasar tersebut.

Penutup

Ini adalah kejadian nyata beberapa tahun yang lalu di Ranca Upas, Ciwidey, Kabupaten Bandung. Tempat berkemah ini berada di kaki Gunung Patuha yang sejuk, malah teramat dingin pada malam hari. Pada musim libur sekolah, banyak pelajar yang berkemah di sini, tak terkecuali anggota Pramuka. Saat melintas arena perkemahan itu, dengan riang para siswa ceria sesuai dengan jiwa mudanya, mengenakan celana panjang dan jaketnya yang hangat warna-warni, tahan hembusan angin dan kedap air. Kupluk pembalut kepalanya pun penuh warna dan modis, bahkan ada beberapa anak yang memakai kaos tangan.

Di tempat terpisah yang tak jauh dari sana, ada anggota Pramuka dari sebuah SMA sedang mengadakan pengarahan, mereka berkumpul dalam posisi melingkar. Anggota putrinya terlihat masih memakai rok dengan baju seragamnya tanpa jaket. Padahal malam itu dinginnya bukan main. Dari contoh kecil di atas, anak muda mana yang mau malam-malam yang menggigil itu hanya memakai rok dan baju tanpa jaket?

Pramuka yang seharusnya sangat paham akan keadaan alam, sehingga bisa melindungi diri dari keadaan hawa yang dingin, yang terjadi sebaliknya. Sementara siswa lainnya berkemah dengan sehat dan bergaya, anggota Pramuka tak paham, bahwa kalau udara dingin harus memakai penutup tubuh lebih rapat lagi, sehingga dapat mempertahankan diri dari dinginnya hawa, sehingga sehat selama kegiatan.

Saya berpapasan dengan salah seorang pembinanya, lalu saya mengajukan usul agar peserta perkemahan, khususnya anggota putri untuk memakai celana panjang dan jaket. Jawabannya sungguh di luar perkiraan saya. ”Bapak menghina Pramuka!” katanya sambil memanggil pembina yang lainnya dan mendatangi saya dengan tuduhan telah menghina Pramuka.

Bulan Juli 2006 ini di Bumi Perkemahan Kiarapayung, Sumedang, Jawa Barat, akan diselenggarakan Jambore Nasional Gerakan Pramuka. Mudah-mudahan pertemuan ini menjadi ajang standaridisasi keterampilan atau kemahiran serta strategi latihan dan pembinaan. Latihan bersama anggota Pramuka dalam Jambore itu mudah-mudahan dapat mengasah keterampilan dasar kepramukaan sehingga dapat dikuasai dengan baik.

Dalam Jamnas ini semoga terjadi reverberasi, aktivitas yang dapat menimbulkan gema reposisi dan revitalisasi Gerakan Pramuka. Kalau tidak, saat pulang ke daerahnya, Pramuka tetap mengalami nasib tragis, walau pembinanya mulai lurah hingga bupati atau gubernur!***

jangan hanya bajunya yang PRAMUKA

Lord Baden Powell tak mengharuskan Pramuka di seluruh dunia mengenakan seragam setiap hari tertentu. Bapak kepanduan dunia itu hanya menitipkan pesan kepada anak didiknya untuk senantiasa menjadi anak muda yang tangguh. Jadi anak muda yang pionir. Pramuka itu di depan dalam segala hal yang ideal. Dalam bahasa kampungnya Baden Powell, Pramuka disebut Scout. Powell memimpikan anak-anak muda yang piawai, cerdik dan dapat mengatasi kesulitan yang dihadapinya sendiri tanpa banyak tergantung pada orang lain. Bacalah bukunya ‘Aids to Scouting’ sangat sarat mengajarkan tentang bagaimana orang-orang muda berlatih untuk mengatasi berbagai problem hidupnya. Dari pikiran-pikiran Powell kemudian ditularkan ke seluruh dunia oleh para pengikutnya. Pramuka kemudian dijadikan organisasi atau lembaga yang mencetak dan membentuk anak-anak muda yang penuh karsa. Di luar lembaga sekolah, maka diyakini Pramukalah
wahana yang pas untuk membina anak muda. Gerakan Pramuka secara resmi diperkenalkan kepada seluruh rakyat Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1961. Tapi seberapa jauh Pramuka sudah mencapai tujuan idealnya di Indonesia? Kalau Pramuka sudah hebat, tentu Presiden Yudhoyono tidak akan menyentil dalam pidatonya Agustus lalu bahwa perlu revitalisasi Gerakan Pramuka. Jelas Presiden tidak puas dengan apa yang sudah Pramuka hasilkan. Pembinaan yang sangat penting dan mendasar dilakukan terhadap anggota Pramuka tingkat Siaga (7-10 tahun). Pramuka Siaga merupakan titik awal seorang anak mengenal dunia Pramuka. Tapi seberapa kenalnyakan para pembina, para Majelis Pembina (Mabi) dengan Pramuka? Jangan-jangan yang hafal dua kode kehormatan, yaitu Dwi Satya (janji Pramuka Siaga), dan Dwi Darma (ketentuan moral Pramuka Siaga) hanya tinggal bebarapa Pramuka
kecil saja. Sementara Pramuka besar hanya petantang-petenteng berseragam Pramuka setiap hari tertentu. Jika Pramuka kita sepakati jadi wahana pembentukan sikap ksatria anak-anak kita, maka sudah tepatlah kiranya sentilan Presiden bahwa Pramuka perlu revitalisasi. Saya justru cemas, buku 284 Permainan Siaga yang diterbitkan Kwarnas Pramuka hanya akan dianggap buku jelek saja dibanding buku komik Jepang Doraemon atau komik spy Naruto oleh anak-anak. Padahal di situ banyak permainan dalam Pramuka Siaga yang bentuknya sangat menarik dan mengandung nilai-nilai pendidikan. Presiden menyentil, maka seyogyanya tak harus hanya Pramuka yang ‘takalenjek’ tetapi semua kita yang menjadi stakeholders Pramuka itu. Perangai buruk yang dijalani orang-orang dewasa sekarang, jangan-jangan karena dulu tidak pernah dididik menjadi Pramuka. Tak ada dalam Pramuka diajarkan korupsi, bersikap angkuh, merasa pintar sendiri, berkuasa sendiri. Pramuka justru mengajari orang-orang bersikap rendah hati tapi tetap siaga dan tangguh. Maka makin jelaslah, bahwa jangan lihat Pramuka dari bajunya tapi dari hatinya. Sudah Pramukakah hati pemakai seragam Pramuka? Musda Pramuka yang berlangsung hari ini hendaknya mengarifi ini juga.

Salam Pramuka……..!!!!!
Sumber : http://ekopadang.wordpress.com/

AKU CINTA INDONESIA

Berada di tempat yang jauh dari peradaban modern sungguh memberikan suasana baru dalam alam pikiranku saat itu. Jauh dari polusi, jauh dari kemacetan, jauh dari kebisingan hiruk pikuk kota dan jauh dari dunia maya internet.

Inilah dunia nyata yang senyata-nyatanya aku pikir. Semua berpikir jujur, berkata jujur dan bertindak jujur. Udara yang begitu sejuk dan langit yang biru bersih mewarnai hari-hari dan memberi semangat serta mengisi nuansa padaku untuk be-kerja bakti dengan warga. Kerja bakti, ya… kata sederhana yang sarat makna yang sudah sangat lama tidak singgah di telingaku. Kata yang terkesan usang dan kuno di jaman yang serba modern dan dinamis, di jaman yang dipenuhi dengan kata-kata tentang kemajuan dan teknologi, tentang masa depan bangsa dan negara namun sayangnya kata-kata itu justru keluar dari mulut orang-orang yang tidak mempunyai bakti dalam jiwa kerja mereka, bakti untuk bangsa dan kerja untuk negara.

Mungkin sekali-kali para pemimpin atau calon pemimpin bangsa ini harus diisolasikan ke daerah-daerah terpencil untuk bisa merasakan makna sesungguhnya suatu kerja untuk kebersamaan masyarakat agar pikiran mereka teringatkan kembali oleh kata yang pernah mereka dengar dulu sewaktu masih menjadi rakyat di tengah masyarakat. Kerja bakti, bagi orang-orang modern di kota laksana sebuah bangunan tua yang antik yang tinggal puing-puing saja, hanya sebagai pemanis sebuah bentuk seni namun telah ditinggalkan oleh penghuninya , kosong tanpa makna.

Kami semua di situ minum dari 1 gelas yang sama, makan makanan sederhana yang saling terbagi. Kami tidak merasa miskin sama sekali, kami tidak merasa tertinggal oleh jaman. Mereka orang-orang kuat dalam mengarungi hidup, pemberani juga tangguh, bijaksana dalam berpikir karena berguru pada maha mulianya alam.

Di antara kami bercampur warga dari berbagai suku daerah. Semua bercerita, rukun dan damai. Kami saling tertawa manakala seorang dari daerah Sunda menirukan temannya yang berbahasa Jawa Tegal atau seorang Jawa Banyumas yang menirukan temannya berbahasa Batak.

Sungguh indah hari itu kurasa, aku berpikir inilah Indonesia asli, Indonesia yang murni, bukan Indonesia-nya mereka yang banyak omong tentang bangsa namun individualis, bukan mereka yang berpendidikan tinggi berbicara tentang modernitas, teknologi dan kemajuan namun sebenaranya bingung atau bukan mereka juga yang terisolasi di bangku kuliah yang sok dewasa dan selalu menjadikan teori mati sebagai berhala.

Dari situ aku terbayang betapa indahnya Indonesia di daerah-daerah pedalaman yang lainnya di nusantara. Anak-anak lugu di pedalaman rimba Kalimantan atau Sumatera, anak-anak ceria yang bermain bersama kuda-kuda mereka di Nusa Tenggara sana dan masih banyak lagi. Aku sungguh cinta Indonesia saat itu, perasaan cinta kepada bangsa yang belum pernah aku dapatkan seumur hidupku di bangku sekolah ataupun kuliah.

Bagi kalian yang masih memitoskan kulit putih sebagai suatu bentuk kesempurnaan peradaban maju atau masih memandang rumput tetangga lebih hijau, sekali-kali mungkin perlu melepaskan baju kebesaran anda, melepaskan ego di pikiran anda, membuka lebar-lebar jendela di hati, keluarlah dari kampus-kampus anda dan turun ke bumi, mencoba belajar dari alam, dari lingkungan atau dari masyarakat. Ada begitu banyak kebijaksanaan tersmbunyi di dalam masyarakat terbelakang, begitu banyak teori hidup yang memang benar-benar hidup yang tidak mungkin didapat di tengah-tengah kehidupan kemajuan dunia anda.

Beribu pulau, bahasa, suku, semuanya bersatu. Aku cinta Indonesia apapun keadaannya.

(http://miftahrahman.wordpress.com)

PARSILAN MAULANA

TERIMA KASIH

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

Post Navigation